Absensi siswa per jam pelajaran mencatat kehadiran di setiap mapel, bukan hanya sekali saat siswa tiba di sekolah. Cara ini menunjukkan siswa yang datang pagi tetapi tidak masuk kelas tertentu, dan memberi wali kelas data yang lebih tepat. Cara mencatatnya beragam, dari absen kertas sampai pindai kamera kelas, dengan perbedaan besar pada waktu, biaya, akurasi, dan privasi.
Panduan ini menjelaskan mengapa absensi per jam pelajaran penting, lalu membandingkan lima jenis cara absensi yang umum dipakai sekolah.
Mengapa absensi perlu dicatat per jam pelajaran?
Absensi harian di gerbang hanya menjawab satu pertanyaan: apakah siswa datang ke sekolah hari ini. Yang tidak terjawab:
- Siswa yang membolos di jam tertentu. Siswa bisa tercatat hadir di pagi hari, lalu tidak masuk di jam kelima.
- Pola per mapel. Wali kelas dan guru BK tidak bisa melihat bahwa seorang siswa sering absen di mapel yang sama.
- Siswa yang pulang lebih awal. Tanpa catatan per jam, kepulangan di tengah hari baru ketahuan bila ada yang melapor.
- Jurnal dan presensi guru. Catatan per jam pelajaran sekaligus menunjukkan apakah kelas berlangsung dan siapa yang mengajar.
Masalahnya, absensi per jam pelajaran berarti mencatat kehadiran berkali-kali dalam sehari untuk setiap kelas. Bila setiap pencatatan memakan beberapa menit, waktu belajar terpotong. Karena itu, pilihan caranya penting.
Apa saja cara absensi siswa di sekolah?
1. Mesin di gerbang
Siswa memindai kartu atau wajah di mesin yang dipasang di pintu masuk sekolah. Kehadiran tercatat sekali saat datang, kadang juga saat pulang.
- Waktu: cepat per siswa, tetapi bisa antre di jam masuk.
- Biaya: perlu membeli dan merawat perangkat keras, ditambah listrik dan jaringan di gerbang.
- Akurasi: kartu bisa dititipkan ke teman. Tidak mencatat kehadiran per jam pelajaran.
- Privasi: bergantung pada di mana data wajah atau kartu disimpan dan siapa pengelolanya.
2. Mesin sidik jari
Siswa menempelkan jari di mesin, biasanya di ruang guru atau lorong.
- Waktu: antre bila satu mesin dipakai banyak kelas. Sulit dipakai di setiap jam pelajaran.
- Biaya: perangkat keras per lokasi; makin banyak titik, makin mahal.
- Akurasi: jari basah, kotor, atau terluka sering gagal terbaca.
- Privasi dan kebersihan: sidik jari adalah data biometrik. Satu permukaan disentuh ratusan siswa setiap hari.
3. Aplikasi swafoto dengan GPS
Setiap siswa membuka aplikasi di ponselnya, mengambil swafoto, dan lokasi GPS ikut tercatat.
- Waktu: cepat bila semua siswa membawa ponsel dan sinyal bagus.
- Biaya: perangkat tidak dibeli sekolah, tetapi setiap siswa butuh ponsel dan kuota.
- Akurasi: lokasi GPS bisa dipalsukan, dan GPS di dalam gedung sering meleset. Siswa tanpa ponsel tidak bisa absen.
- Privasi: foto dan lokasi siswa biasanya dikirim ke server. Bertentangan dengan aturan sekolah yang membatasi ponsel di kelas.
4. Absen kertas oleh guru
Guru memanggil nama satu per satu dan mencentang daftar hadir.
- Waktu: beberapa menit setiap jam pelajaran untuk kelas yang besar.
- Biaya: hampir tanpa biaya langsung.
- Akurasi: bergantung pada ketelitian guru; siswa bisa menjawab untuk temannya.
- Rekap: harus diketik ulang atau dihitung manual di akhir bulan. Wali murid baru tahu bila ada surat atau panggilan.
5. Pindai kamera kelas oleh guru
Guru mengarahkan kamera ponsel ke kelas, dan wajah siswa dikenali dari satu atau beberapa bingkai. Guru lalu menandai siswa yang tidak terlihat.
- Waktu: singkat, karena guru menyapukan kamera, bukan memanggil nama.
- Biaya: memakai ponsel atau laptop guru; tidak ada mesin.
- Akurasi: wajah yang tertutup atau membelakangi kamera perlu dipindai ulang atau ditandai manual. Kehadiran tetap dikonfirmasi guru.
- Privasi: bergantung pada apakah foto dikirim ke server atau diproses di perangkat.
Bagaimana perbandingannya?
| Cara | Waktu per jam pelajaran | Biaya | Masalah akurasi | Privasi |
|---|---|---|---|---|
| Mesin gerbang | Tidak dipakai per jam; sekali sehari | Perangkat keras dan perawatan | Kartu dititipkan; tidak tahu siapa yang membolos di kelas | Data di mesin atau server pengelola |
| Sidik jari | Antre bila dipakai banyak kelas | Perangkat per lokasi | Jari basah atau kotor gagal terbaca | Data biometrik; satu permukaan untuk semua |
| Swafoto + GPS | Cepat bila semua punya ponsel | Ponsel dan kuota siswa | GPS dipalsukan atau meleset; siswa tanpa ponsel | Foto dan lokasi umumnya diunggah |
| Absen kertas | Beberapa menit | Hampir nol | Bergantung ketelitian; rekap manual | Rendah risiko digital, tetapi kertas bisa hilang |
| Pindai kamera kelas | Singkat | Ponsel guru | Wajah tertutup perlu dipindai ulang atau manual | Bergantung di mana wajah diproses |
Tidak ada cara yang sempurna. Untuk absensi per jam pelajaran, pertanyaan utamanya adalah: berapa detik yang hilang dari waktu belajar, dan ke mana data wajah atau jari siswa pergi.
Apa yang perlu diperhatikan soal privasi data wajah?
Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data biometrik dan data anak sebagai data pribadi yang bersifat spesifik (Pasal 4). Data wajah siswa masuk ke dua golongan itu sekaligus.
Sebelum memilih sistem absensi biometrik, tanyakan:
- Apakah foto dikirim ke server, atau hanya diproses di perangkat?
- Apa yang disimpan: foto, atau penanda wajah dalam bentuk angka?
- Di mana data disimpan, dan apakah terpisah dari sekolah lain?
- Bisakah data wajah seorang siswa dihapus permanen bila wali murid meminta?
- Apakah sekolah sudah meminta persetujuan tertulis wali murid?
Di mana posisi Skula?
Absensi wajah Skula memakai cara kelima: guru memindai kelas dengan kamera ponsel. Alurnya dibuat untuk dipakai di setiap jam pelajaran.
Yang tersedia saat ini:
- Di bawah 20 detik per sesi. Guru membuka sesi untuk jam pelajaran yang sedang berjalan, lalu menyapukan kamera belakang dari depan ke belakang kelas.
- Hingga 10 wajah dalam satu bingkai. Kamera memindai beberapa kali per detik, dan penghitung hadir bertambah setiap kali wajah siswa cocok.
- Pencocokan di ponsel guru. Pengenalan dan pencocokan wajah berjalan di browser ponsel atau laptop guru. Foto tidak diunggah, baik saat memindai maupun saat mendaftarkan wajah. Yang dikirim ke server hanya hasil kehadiran.
- Yang disimpan bukan foto. Saat pendaftaran, perangkat mengambil tiga tangkapan wajah dan mengubahnya menjadi deretan angka penanda wajah. Hanya angka itu yang disimpan, paling banyak tiga per orang, di basis data sekolah sendiri. Data wajah bisa dihapus permanen kapan saja lewat tombol Hapus wajah.
- Guru tetap mengonfirmasi. Siswa yang belum terlihat ditandai sakit, izin, atau alpa, atau hadir dengan satu ketukan, sebelum disimpan. Bila kamera tidak bisa dipakai, sesi tetap bisa diselesaikan secara manual.
- Tiga catatan sekaligus. Satu sesi mencatat kehadiran siswa, presensi guru, dan jurnal mengajar.
- Tindak lanjut cepat. Pemberitahuan alpa dan keterlambatan masuk ke notifikasi wali kelas. Wali murid melihat kehadiran anaknya di aplikasi Android Skula.
Yang perlu dicatat
- Wajah setiap siswa didaftarkan sekali, dengan tiga tangkapan, oleh admin, wali kelas, atau guru yang mengajar di kelas itu. Siswa yang belum terdaftar tetap bisa diabsen manual.
- Skula menyarankan sekolah meminta persetujuan tertulis wali murid sebelum mendaftarkan wajah siswa.
- Absensi wajah untuk seluruh kelas ada di paket PUSAKA. Paket Rapor untuk madrasah memuatnya untuk dua kelas. Rincian ada di halaman Harga.
Cara termudah memulai adalah dari satu kelas selama sepekan, lalu memperluas ke kelas lain. Setiap sekolah baru bisa mencoba absensi wajah per jam pelajaran selama uji coba gratis 14 hari.
Bila guru Anda juga menghabiskan waktu untuk administrasi lain, lihat perangkat ajar Kurikulum Merdeka.
Ringkasan
- Absensi per jam pelajaran menunjukkan siswa yang membolos di mapel tertentu, yang tidak terlihat dari absensi gerbang.
- Lima cara umum: mesin gerbang, sidik jari, swafoto dengan GPS, absen kertas, dan pindai kamera kelas.
- Bandingkan waktu yang hilang per jam pelajaran, biaya, masalah akurasi, dan ke mana data biometrik pergi.
- UU Pelindungan Data Pribadi menggolongkan data biometrik dan data anak sebagai data spesifik; minta persetujuan wali murid.
- Skula memakai pindai kamera kelas: di bawah 20 detik per sesi, hingga 10 wajah per bingkai, pencocokan di ponsel guru, dan foto tidak diunggah.